Karya
: Asmaraman S Kho Ping Hoo
"Suhu,
nanti dulu...!"
Pangeran itu mengerutkan alisnya. Lagi-lagi dia mendengar pengaruh yang luar
biasa di balik suara anak itu yang memaksanya menoleh! Dengan suara kesal dia
berkata, "Mau apa lagi?" "Maaf, Suhu. Teecu mana bisa
meninggalkan sebelas buah mayat itu disini begini saja?"
"Habis, apa maumu?"
"Teecu harus mengubur mereka lebih dulu sebelum pergi."."Kalau
aku melarangmu?" Teecu tidak percaya bahwa Suhu akan sekejam itu, teecu
yakin akan kebaikan budi Suhu. Akan tetapi andaikata Suhu benar melarang teecu,
terpaksa teecu akan membangkang dan tetap akan mengubur mayat-mayat ini."
Sepasang mata pangeran itu terbelalak penuh keheranan. Anak berusia tujuh tahun
sudah berani memiliki pendirian seperti batu karang kokohnya.
"Murid macam apa kau ini? Belum apa-apa sudah siap membangkang terhadap
Guru!" "Teecu menjadi murid bukan membuta, dan teecu ingin
mempelajari ilmu yang baik. Kalau teecu mentaati saja perintah Suhu yang tidak
benar, sama saja dengan teecu menyeret Suhu ke dalam kesesatan." Mata Han
Ti Ong makin terbelalak. Hampir dia marah, akan tetapi dia dapat melihat apa
yang tersembunyi di balik ucapan yang kelihatan kurang ajar ini dan dia
mengangguk-angguk. "Lakukanlah kehendakmu, aku menunggu."
"Terima kasih! Teecu memang tahu bahwa Suhu seorang sakti yang
budiman!" Dengan wajah berseri Sin LIong lalu menggali lubang. Akan tetapi
karena dia hanya seorang anak kecil dan yang dipergunakan menggali hanyalah
sebatang cangkul biasa yang kecil pemberian orang-orang dusun dan yang biasa
dia pergunakan untuk menggali dan mencari akar obat, maka tentu saja menggali
sebuah lubang untuk mengubur sebelas buah mayat bukan merupakan pekerjaan
ringan dan mudah! Mula-mula Han Ti Ong duduk di bawah pohon dan melirik ke arah
muridnya itu yang bekerja keras. Disangkanya bahwa tentu bocah itu akan
kelelahan dan akan beristirahat. Akan tetapi dia kecele. Sin Liong bekerja
terus biarpun kaki tangannya sudah pegal-pegal semua, dan keringat membasahi seluruh
tubuh, menetes dari dahinya dan kadang-kadang diusapnya dengan lengan baju.
Akan tetapi dia tidak pernah berhenti bekerja.
Sudah setengah hari mencangkul, baru dapat membuat lubang yang hanya cukup
untuk dua buah mayat saja. Kalau dilanjutkan, agaknya untuk dapat menggali
lubang yang cukup untuk semua mayat, ia harus bekerja selama dua hari dua malam
atau lebih! "Hemm, hatinya lembut tapi kemauannya keras. Benar-benar bocah
ajaib." Han Ti Ong mengomel sendiri dan dia lalu bangkit, dirampasnya
cangkul dari tangan muridnya dan tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu
mencangkul. Gerakannya amat cepat sekali sehingga Sin Liong yang mundur dan
menonton menjadi kabur pandangan matanya karena seolah-olah tubuh gurunya
berubah menjadi banyak, semuanya mencangkul dan sebentar saja telah terbuat
sebuah lobang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur sebelas buah mayat
itu. Tentu saja hati Sin lIong girang bukan main dan satu demi satu diangkat,
atau lebih tepat diseeretnya mayat-mayat itu, dimasukkan ke dalam lubang dan
air matanya bercucuran! Han Ti ong membantu muridnya mengguruk atau menutup
lubang itu sehingga di tempat itu, di depan gua tempat tinggal Sin Liong,
terdapat sebuah kuburan yang besar sekali. "Sudahlah, sudah mati
ditangisipun tidak ada gunanya. Mari kita pergi!" Sin Liong merasa
lengannya dipegang oleh gurunya dan di lain saat dia harus memejamkan matanya
karena tubuhnya telah "terbang" dengan amat cepatnya meninggalkan
Gunung Jeng-hoa-san, entah kemana! Akan tetapi setelah merasa terbiasa, Sin Liong
berani juga membuka matanya dan dengan penuh kagum dia melihat bahwa dia
dikempit oleh suhunya yang berlari cepat seperti angin saja. Dia mengenal pula
tempat dimana suhunya melarikan diri yaitu ke sebelah timur Pegunungan
Jeng-hoa-san. Tiba-tiba dia melihat sesuatu, juga hidungnya mencium sesuatu,
maka dia cepat berseru, "Suhu, harap berhenti dulu!" Han Ti Ong
berhenti. "Ada apa?"
"Suhu, disana itu..." Suara Sin Liong tergetar dan ketika Han Ti Ong
menoleh, dia pun merasa jijik sekali. Yang ditunjuk oleh muridnya itu adalah
sekumpulan mayat orang yang sudah menjadi mayat rusak dan bekasnya menunjukkan
bahwa mayat-mayat itu tentu diganggu oleh binatang-binatang buas sehingga
berserakan kesana-sini.."Mau apa kau?" Han Ti Ong membentak.
"Suhu apakah kita harus mendiamkan saja mayat-mayat itu? Mereka adalah
bekas-bekas manusia seperti kita juga. Kasihan kalau tidak diurus..."
"Wah, kau memang gatal-gatal tangan ! Nah, hendak kulihat apa yang akan
kau lakukan terhadap mereka?" Han Ti Ong menurunkan Sin Liong dan dia
sendiri lalu duduk diatas sebuah batu dari tempat agak jauh. Dia sungguh ingin
tahu apa yang akan dilakukan muridnya itu terhadap mayat-mayat yang sudah
demikian membusuk, bahkan dari tempat dia duduk pun tercium baunya yang hampir
membuatnya muntah.
Dengan langkah lebar Sin Liong menghampiri mayat-mayat itu, sedikit pun tidak
kelihatan jijik atau segan. Kemudian, diikuti pandang mata Han Ti Ong yang
terheran-heran bocah itu mulai menggali tanah dengan hanya menggunakan sebatang
pisau kecil, pisau yang biasanya dipergunakan untuk memotong-motong daun dan
akar dan yang agaknya tak pernah terpisah dari saku bajunya. Anak itu hendak
menggali lubang untuk mengubur dua belas buah mayat busuk itu hanya dengan
menggunakan sebatang pisau kecil! Hampir saja Han Ti Ong tertawa tergelak
saking geli hatinya, juga saking girangnya mendapat kenyataan bahwa muridnya
ini benar-benar seorang bocah ajaib yang mempunyai pribadi luhur dan wajar
tanpa dibuat-buat! Dengan kagum dia meloncat bangun, lari menghampiri yang
telah menggali lubang beberapa sentimeter dalamnya.
"Cukup Sin Liong. Lubang itu sudah cukup lebih dari cukup untuk mengubur
mereka."
"Ehhh...? Mana mungkin, Suhu...?
"Ha, kau masih meragukan kelihaian suhumu? Lihat baik-baik!" Han Ti
Ong lalu mengeluarkan sebuah botol dari saku jubahnya, menggunakan ujung
sepatunya mencongkel mayat-mayat itu menjadi setumpukan barang busuk, dan dia
menuangkan benda cair berwarna kuning dari dalam botol ke atas tumpukan mayat.
Tampak uap mengepul dan tumpukan mayat itu mencair, dalam sekejap mata saja
lenyaplah tumpukan mayat itu karena semua, berikut tulang-tulangnya, telah
mencair dan cairan itu mengalir ke dalam lubang yang tadi digali Sin Liong.
Benar saja, cairan itu memasuki lubang dan meresap ke tanah, tentu saja lubang
itu sudah lebih dari cukup untuk menampung cairan itu.
Dengan mata terbelalak penuh kagum, Sin Liong lalu menguruk lagi lubang itu dan
berlutut di depan kaki suhunya, "Suhu, terima kasih atas bantuan Suhu.
Suhu sungguh sakti dan budiman." "Aahhh....!" Muka Han Ti Ong
menjadi merah dan dia mengeluarkan seruan itu untuk menutupi rasa malunya. Mana
bisa dia disebut budiman kalau mengubur mayat-mayat itu bukan terjadi atas
kehendaknya, melainkan dia "terpaksa" oleh muridnya?
"Kalau aku tidak salah lihat, mereka ini adalah pendekar-pendekar gagah.
Sungguh kematian yang menyedihkan dan entah siapa yang dapat membunuh mereka.
Mereka kelihatan bukan orang-orang sembarangan yang mudah dibunuh. Mari kita
pergi, Sin Liong!" Kembali murid itu dikempitnya dan Pangeran Sakti itu
menggunakan ilmu berlari cepat seperti tadi, melanjutkan perjalanan ke timur
menuruni Pegunungan Jeng-hoa-san. Tak lama kemudian, kembali Sin Liong yang
dikempit(dijepit di bawah lengan) berseru, "Haiii Suhu, harap berhenti
dulu...!"
Han Ti Ong menjadi gemas. Akan tetapi dia berhenti juga menurunkan bocah itu
dari kempitan di bawah ketiaknya. "Mau apa lagi kau? Awas, kalau tidak
penting sekali, aku akan marah!"
"Lihat disana itu, Suhu. Tidak patutkah kita menolong orang yang sengsara
itu? Siapa tahu dia juga sudah mati disana..." Tanpa menanti jawaban
suhunya, Sin Liong sudah lari menghampiri sesosok tubuh yang menggeletak di
bawah pohon tak jauh dari situ. Tubuh itu tidak bergerak-gerak, akan tetapi
dari tempat ia berdiri, Han Ti Ong mengerti bahwa orang itu belum tewas,
agaknya pingsan atau tertidur saja..Dia tersenyum dan melihat muridnya sudha
menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Betapa kagetnya ketika dia
mendengar teriakan muridnya, "Eihh, Suhu! Dia seeorang wanita!" Han
Ti Ong terheran. Dia lalu meloncat ke arah muridnya dan melihat betapa
tiba-tiba orang yang disangkanya pingsan itu sudha meloncat bangun dan langsung
memukul kepala Sin Liong dengan kekuatan dahsyat.
"Wuuuttt........... plakkk! Augghhh....!!" Wanita yang mukanya kotor
matanya merah dan rambutnya awut-awutan
itu menjerit ketika pukulannya tertangkis oleh lengan Han Ti Ong yang amat
kuat. Dia terhuyung ke belakang, sejenak memandang Han Ti Ong dan Sin Liong,
kemudian menangis tersedu-sedu dan bergulingan diatas tanah menangis seperti
seorang anak kecil.
"Jangan....aughhh, jangan....lepaskan aku....lepaskan ...! Jangan bunuh
mereka...!" Sin Liong tertegun dan memandang penuh kasihan. Juga Han Ti
Ong memandang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong memandang dengan terharu, maklum
bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang berotak miring!
"Toanio(Nyonya), kau kenapakah...? Sin Liong melangkah ke depan. Tiba-tiba
wanita itu meloncat bangun dan Han Ti Ong sudah siap melindungi muridnya yang
sama sekali tidak kelihatan takut itu. Akan tetapi wanita itu lalu tiba-tiba
tertawa terkekeh. "Hi-hi-hi-hikk!" Aneh sekali, ketika wanita itu
tertawa, Han Ti Ong melihat wajah yang amat cantik manis! Wanita itu adalah
seorang gadis muda yang amat cantik, akan tetapi yang entah mengapa telah
menjadi gila. Pakaian yang dipakainya adalah pakaian pria yang terlalu besar,
rambutnya yang hitam panjang itu riap-riapan tidak diurus, mukanya kotor
terkena debu dan air mata, matanya merah dan membengkak. "Hi-hi-hik,
kubunuh engkau, Pat-jiu Kai-ong, aku bersumpah akan membunuhmu untuk membalas
kematian dua belas orang Suhengku!" Kemudian dia menangis lagi. "
Hu-hu-huuuuuh.... Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai habis terbasmi...."
Han Ti Ong terkejut dan teringatlah dia akan nama Tiga Belas Orang Pendekar
Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai tiga belas orang pendekar gagah perkasa
pembela keadilan dan kebenaran, teringat pula bahwa mereka terdiri dari dua
belas pria dan seorang wanita, kalau tidak salah, saudara termuda. "Nona,
apakah engkau orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai?"
tanyanya sambil melangkah maju menghampiri wanita gila itu.
"Jangan sentuh aku! Manusia terkutuk, jangan sentuh aku lagi!" Dan
tiba-tiba wanita itu menyerang dengan hebatnya. Han Ti Ong menangkis dan
menotok.
Robohlah wanita itu, roboh dalam keadaan lemas tak dapat bergerak lagi.
"Suhu, mengapa....?" Sin Liong bertanya penasaran.
"Bodoh, kalau tidak kutotok, tentu dia akan mengamuk terus. Coba
kauperiksa dia, apakah kau bisa mengobatinya?"
Sin Liong berlutut dan melihat wanita itu hanya melotot tanpa mampu bergerak.
Setelah memerikasa sebentar, dia menarik napas panjang. "Suhu, dia terkena
pukulan batin yang amat berat, membuat dia menjadi begini, berubah ingatannya.
Kalau kita berada di Jeng-hoa-san, kiranya dapat teecu mencarikan daun penenang
utnuk mengobatinya."
"Hemm, kau lihatlah Gurumu mencoba untuk mengobatinya." Han Ti Ong
megeluarkan sebatang jarum emas dari sakunya, setelah membersihkan ujungnya dia
lalu mengahampiri wanita itu dan menusukkan jarum emasnya di tiga tempat, di
tengkuk kanan kiri dan ubun-ubun! Sin Liong memandang dengan mata
terbelalak..Dia sudah mendengar dari ayahnya tentang kepandaian orang mengobati
dengan tusukan jarum, akan tetapi sekarang dia menyaksikannya. Dan wanita itu
baru mengeluh lalu tertidur dengan pernapasan yang panjang dan tenang. Ketika
gurunya mencabut jarum dan menyimpannya, gurunya berkata, "Coba kau
periksa lagi matanya, apakah sudah ada perubahan?"
Sin Liong membuka pelupuk mata dan meihat bahwa mata wanita itu yang tadinya
mengeluarkan sinar aneh yang liar, kini telah normal kembali. Dia cepat
menjatuhkan dirinya berlutut di depan Suhunya. "Suhu, teecu seperti buta,
tidak tahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobatan pula." "Hemm, dalam
hal mengenal tetumbuhan obat, mana aku mampu menandingimu? Akan tetapi aku
mempunyai kepandaian menusuk jarum, kepandaian turunan yang tentu kelak akan
kuajarkan kepadamu." "Suhu, teecu mengajukan sebuah permohonan, harap
Suhu tidak keberatan." "Hemm, apa lagi?" "Harap Suhu suka
menolong wanita malang ini, dan membiarkan dia ikut dengan kita."
"Kau..............kau gila.......?"
"Suhu, dia belum sembuh benar. Kalau dia dibiarkan disini, lalu datang
orang jahat, bagaimana?"
"Ha, kau tidak usah khawatir. Dia adalah orang termuda dari Cap-sha
Sin-hiap, ilmu kepandaiannya tinggi.
Siapa berani mengganggunya?"
"Buktinya, dua belas orang suhengnya tewas dan tentu mereka itu adalah
mayat-mayat yang tadi kita kubur. Agaknya yang membunuh adalah Pat-jiu Kai-ong.
Selain itu, kalau dia teringat akan peristiwa itu sebelum sembuh benar, tentu
dia akan kumat gilanya dan apakah Suhu tega membiarkan dia seperti itu?"
Han Ti ong memandang wajah wanita yang bukan lain adalah The Kwat Lin itu. Dia
terheran sendiri mengapa wajah yang kotor dan rambut yang kusut itu
mendatangkan rasa iba yang luar biasa di hatinya? Mengapa dia merasa tertarik
dan ingin sekali menolong wanita muda ini? Apakah dia sudah
"Ketularan" watak muridnya, ataukah... ataukah...? Dia tidak berani
membayangkan. Selama ini hanya isterinya seoranglah wanita yang menarik
hatinya, yang membangkitkan gairahnya, akan tetapi perempuan gila ini.. entah
mengapa, telah membuat dia tertarik dan kasihan sekali. "Sudahlah, kau
memang cerewet, dan kalau tidak kuturuti, tentu kau rewel terus. Biar kita
membawa bersama ke Pulau Es, kita lihat saja nanti bagaimana
perkembangannya." Ucapan terakhir ini seperti ditujukan kepada hatinya
sendiri!
"Teecu tahu, Suhu adalah seorang yang budiman."
Dengan hati mengkel karena ucapan muridnya itu seperti ejekan kepadanya karena
dia mau menolong dara ini sama sekali bukan karena dia budiman, melainkan
karena dia kasihan dan terutama sekali... tertarik hatinya, dengan kasar dia
lalu mengempit tubuh wanita itu di bawah ketiak kanannya, dan menyambar tubuh
Sin Liong di bawah ketiak kirinya dan larinya Pangeran yang sakti ini secepat
terbang menuju ke pantai lautan.
Siapakah sebetulnya manusia sakti yang ditakuti oleh tujuh orang tokoh kang-ouw
itu? Siapakah Pangeran Han Ti Ong yang pada bagiaan dada bajunya terdapat
lukisan burung Hong dan seekor Naga emas itu?
Dia adalah pangeran dari Pulau Es. Pulau ini merupakan pulau rahasai yang hanya
dikenal orang kang-ouw seperti dalam dongeng karena tidak pernah ada orang yang
berhasil menemukan pulau itu kecuali beberapa orang nelayan yang perahunya
diserang badai dan mereka ini ditolong oleh manusia-manusia sakti, manusia yang
menjadi penghuni Pulau Es, sebuah pulau dari es dimana terdapat istana indah
dan merupakan sebuah kerajaan kecil penuh dengan orang sakti. Setelah ditolong
dan diselamatkan, dan berhasil kembali ke daratan, para nelayan inilah yang
membuat cerita seperti dongeng itu sehingga nama sebutan Pulau Es terkenal di
dunia kang-ouw.
Kerajaan di Pulau Es itu dibangun oleh seorang pangeran, ratusan tahun yang
lalu. Seorang
pangeran yang amat sakti, seorang pangeran yang dianggap pemberontak karena
berani menentang.kehendak kaisar, dan pangeran ini bersama keluaraganya menjadi
pelariaan. Dengan kesaktiannya, dia berhasil melarikan keluarganya ke pantai
timur dan menggunakan sebuah perahu utnuk mencari tempat baru. Tujuannya adalah
ke pulau di timur di mana dahulu sudah banyak orang-orang pandai dari daratan
yang melarikan diri dan menjadi buronan karena berani menentang pemerintah,
yaitu Kepulauan Jepang! Akan tetapi dia tersesat jalan, perahunya dilanda badai
hebat dan perahunya dibawa jauh ke utara sampai kemudian perahu itu mendarat di
sebuah pulau. Pulau Es! Melihat pulau itu tersembunyi, baik sekali dijadikan
tempat persembunyiannya, dan di sekitar situ terdapat pulau-pulau lain yang
tanahnya cukup subur, maka pangeran pelarian ini mengambi keputusan untuk
menjadikan Pulau Es sebagai tempat tinggalnya. Dia lalu mengumpulkan
orang-orang yang setia kepadanya, membawa mereka ke Pulau Es menjadi pengikut-pengikutnya.
Dibangunnya sebuah istana yang kecil namun indah di Pulau itu dan berdirilah
sebuah kerajaan kecil di tempat terasing ini!
Berkat kebijaksanaan Raja Pulau Es ini, para pengikutnya dan keluarga raja
hidup aman tentram dan penuh kebahagiaan di Pulau Es. Para keluarganya hidup
rukun dan para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga sehingga penghuni pulau
itu berkembang biak. Karena kesaktian rajanya, dan karena letak pulau itu yang
sukar dikunjungi orang luar, maka kerajaan kecil ini tidak pernah terganggu.
Raja itu mewariskan kepandaiannya kepada keturunannya, merupakan ilmu-ilmu
warisan yang hebat, dan tentu saja para pengikut mereka mendapat pula pelajaran
ilmu yang tinggi.
Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja pertama di Pulau Es.
Pangeran ini berbeda dengan keturunan raja yang sudah-sudah. Kalau semua
keturunan raja hidup di Pulau Es dan hanya meninggalkan pulau kalau mereka ada
keperluan di pulau-pulau kosong sekitar daerah itu untuk mengambil daun obat,
sayur-sayuran atau berburu binatang, maka Pangeran Han Ti Ong tidak betah
tinggal di tempat sunyi itu.
Dia sering kali pergi dari pulau dan diam-diam dia melakukan perantauan di
daratan! Dia adalah orang yang paling banyak mewarisi ilmu nenek moyangnya
sehingga dia adalah orang terpandai diantara para keluarga raja di Pulau Es.
Apalagi karena dengan kesukaannya merantau di daratan, dia dapat mengambil
banyak ilmu-ilmu silat tinggi yang lain dari daratan sehingga kepandaiannya
bertambah. Dan gara-gara perantauan Pangeran inilah maka Pulau Es menjadi makin
terkenal dan nama Pangeran Han Ti Ong sendiri juga menggemparkan dunia kang-ouw
sungguhpun dia jarang sekali memperkenalkan diri. Melihat bajunya yang terhias
gambaran naga dan burung Hong itu saja sudah cukup bagi para tokoh kang-ouw
untuk mengenal manusia sakti dari Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi
di Hutan Seribu Bunga ketika Pangeran ini menghadapi tujuh orang tokoh besar
dunia kang-ouw.
Para Pangeran yang sudah-sudah, selalu mengambil isteri dari keluarga kerajaan
sendiri, yaitu saudara-saudara misan mereka sendiri. Hal ini adalah untuk
menjaga agar "darah" kerajaan tetap "asli". Akan tetapi,
berbeda dengan semua kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong yang jatuh cinta
kepada seorang dara puteri penghuni Pulau Es biasa, berkeras mengambil dara itu
sebagai isterinya! Padahal biasanya, dara-dara yang berdarah "biasa"
ini hanya diambil sebagai selir-selir oleh para pangeran dan raja. Akan tetapi,
Pangeran Han Ti Ong tidak mau mengambil selir dan hanya mempunyai seorang
isteri, yaitu anak nelayan yang menjadi pengikut keluarga raja, seorang dara
biasa saja, namun yang sesungguhnya memiliki kecantikan yang mengatasi
kecantikan para puteri raja!
Dari isteri tercinta ini, Pangeran Han Ti Ong mempunyai seorang puteri yang
pada waktu itu berusia enam tahun, seorang anak perempuan yang mungil, cantik,
keras hati seperti ayahnya dan gembira seperti ibunya. Anak ini diberi nama Han
Swat Hong(Angin Salju) ini diambil oleh Pangeran Han Ti Ong untuk menamakan
puterinya karena ketika puterinya terlahir, Pulau Es dilanda angin dan salju
yang amat kuat! Pada pagi hari itu Swat Hong, nak perempuan berusia enam tahun
lebih itu, duduk bengong di tepi pantai Pulau Es. Dia sengaja memilih tempat
sunyi yang agak tinggi ini untuk melihat jauh ke selatan, dan hatinya penuh
rindu terhadap ayahnya yang sudah pergi selama tiga bulan itu. "Hong-ji
(Anak Hong)..."
Swat Hong menoleh dan melihat bahwa yang memanggil tadi adalah ibunya, dia lalu
meloncat bangun, lari menghampiri ibunya, meloncat dan merangkul leher ibunya
dan menangis.
Ibunya tertawa. :Aih-aihhh... anakku yang biasanya periang tertawa mengapa
menangis? Mengapa bulan yang berseri gembira menjadi suram? Awan hitam apakah
yang menghalanginya?"
"Ibu, kau...kau kejam!"
"Ihh! Ibumu kejam? Mungkin kalau sedang menyembelih ikan atau ayam. Akan
tetapi ibumu tidak kejam terhadap manusia." Memang watak Liu Bwee, ibu
anak itu, atau isteri Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gembira yang menurun
pula kepada Swat Hong.
"Ibu kejam, mengapa Ibu tidak berduka? Apakah Ibu tidak rindu kepada
Ayah?" Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah sekali dan terasa lagi dua
titik air mata meloncat turun ke atas pipinya. Melihat ini, Swat Hong melorot
turun dan bertepuk-tepuk tangan, "Hi-hi, Ibu menangis! Ibu juga rindu
kepada Ayah? Hayoh, Ibu sangkal kalau berani!"
Memang watak anak-anak, begitu melihat orang lain berduka, dia sendiri lupa
akan kedukaanya dan merasa terhibur! Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya,
akan tetapi masih bercucuran air mata. Swat Hong yang tadinya berbalik menggoda
ibunya yang dianggapnya rindu kepada ayahnya seperti juga dia tadi, kini
menjadi terheran dan berkhawatir. "Ibu, mengapa ibu berduka? Apa yang
terjadi? Apakah diam-diam ibu begitu merindukan Ayah dan menyembunyikannya
saja?" Liu Bwee memaksa diri tersenyum dan menghapus air matanya,
mengangguk-angguk sebagai jawaban karena masih sukar baginya untuk mengeluarkan
suara tanpa terisak menangis. Akan tetapi puterinya itu adalah seorang anak
yang amat cerdik, maka tentu saja tidak dapat dibohonginya semudah itu.
"Ibu ada apakah? Harap Ibu beritahu kepadaku, siapa yang menyusahkan hati
Ibu? Akan kuhajar dia!" Swat Hong mengepal kedua tinjunya yang kecil
seolah-olah orang yang menyusahkan hati ibunya sudah berada disitu dan akan
dihantamnya.
Melihat sikap anaknya ini, hati Liu Bwee terharu sekali dan ingin dia menangis
lagi, akan tetapi ditekannya perasaan harunya dan dia tertawa. "Aih,
Hong-ji, kalau ada yang kurang ajar kepada ibumu, apakah Ibumu tidak dapat
menghajarnya sendiri?"
Swat Hong tertawa. "Memang aku tahu bahwa kepandaian Ibu juga hebat,
biarpun tidak sehebat Ayah, akan tetapi tidak puas kalau aku tidak menghajar
dengan kedua tanganku sendiri kepada orang yang menyusahkan hati Ibu."


0 comments:
Post a Comment