Home » » Bu Kek Siansu – Part 9

Bu Kek Siansu – Part 9

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo


"Tidak, aku saja! Aku Bhong Sek Bin, namaku tidak pernah kukatakan kepada siapapun dan sekarang kukatakan di depanmu, tanda bahwa aku percaya dan suka sekali kepadamu. Akulah keturunan dari Dewa Sakti Cee Thian Thai-seng, akulah yang mewarisi ilmu Kim-kauw-pang. Kau jadilah murid Thian-tok dan kelak kau akan merajai dunia kang-ouw, Sin-tong."

"Lebih baik menjadi muridku. Aku Thian-he Te-it Ciang Ham, di kolong dunia nomor satu dan ketua dari Kang-jiu-pang di Secuan. Menjadi muridku berarti menjadi calon manusia terpandai di kolong langit!" "Siancai...siancai..! Kaudengarlah mereka semua itu, Sin-tong. Semua hendak mengajarkan ilmu silat dan memamerkan kekayaan duniawi, tidak seorangpun yang hendak mengajarkan kebatinan kepadamu. Akan tetapi pinto (aku) ingin sekali mengambil murid kepadamu, hendak pinto jadikan engkau seorang calon Guru Besar Kebatinan. Kau berbakat untuk itu, siapa tahu, kelak engkau akan memiliki kebijaksanaan besar seperti Nabi Lo-cu sendiri, dan engkau menjadi seorang nabi baru. Kau jadilah murid Lam-hai Seng-jin, Sin-tong!"

Hening sejenak. Semua mata ditujukan kepada bocah yang masih duduk bersila seperti arca dan yang tidak pernah menjawab kecuali mengangkat muka sebentar memandang orang yang membujuknya. Kemudian terdengar suaranya, halus menggetar dan penuh duka. "Terima kasih kepada Cuwi Locianpwe. Akan tetapi saya tidak dapat ikut siapapun juga di antara Cuwi karena di balik semua kebaikan Cuwi terdapat kekerasan dan nafsu membunuh sesama manusia.

Tidak, saya tidak akan turut siapapun, saya lebih senang tinggal disini, di tempat sunyi ini. Harap Cuwi sekalian tinggalkan saya, saya akan mengubur mayat-mayat yang patut dikasihani ini." "Wah, kepala batu! Kalau begitu, aku akan memaksamu!" kata Tee-tok yang berwatak berangasan dan kasar.

"Eh, nanti dulu! Siapa pun tidak boleh mengganggunya!" bentak Thian-tok. "Siancai...sabar dulu semua! Jelas bahwa bocah ajaib ini tidak mau memilih seorang diantara kita secara sukarela. Karena itu, tentu kita semua ingin merampasnya secara kekerasan. Maka harus diatur sebaik dan seadil mungkin. Kita bukan kanak-kanak, kita adalah orang-orang yang telah menghimpun banyak ilmu, maka sebaiknya kalau kita sekarang masing-masing mengeluarkan ilmu dan mengadu ilmu. Siapa yang keluar sebagai pemenang, tentu saja berhak meimiliki Sin-tong," kata Lam-hai Seng-jin yang lebih sabar daripada yang lain.

"Mana bisa diatur begitu?" bantah Pat-jiu kai-ong yang khawatir kalau-kalau lima orang itu akan mengeroyok dia dan Kiam-mo Cai-li. "Lebih baik seorang lawan seorang, yang kalah masuk kotak dan yang menang harus menghadapi yang lain setelah beristirahat. Begitu baru adil!" "Tidak!" bantah Kiam-mo Cai-li, wanita yang cerdik ini dapat melihat kesempatan yang menguntungkannya kalau terjadi pertandingan bersama seperti yang diusulkan Lam-hai Seng-jin. Dalam pertempuran seperti itu, siapa cerdik tentu akan keluar sebagai pemenang. "Kalau diadakan satu lawan satu, terlalu lama.

Sebaiknya kita bertujuh mengeluarkan ilmu dan saling serang tanpa memandang bulu. Dengan demikian, satu-satunya orang yang kelaur sebagai pemenang, Jelas dia telah lihai daripada yang lain."

Akhirnya Pat-jiu kai-ong kalah suara dan ketujuh orang itu telah mengelurkan senjata masing-masing, membentuk lingaran besar dan bergerak perlahan-lahan saling lirik , siap untuk menghantam siapa yang dekat dan menangkis serangan dari manapun juga! Benar-benar merupakan pertandingan hebat yang kacau balau dan aneh!.Sin Liong yang masih duduk bersila, memandang dengan mata terbelalak dan dia menjadi silau ketika tujuh orang itu sudah mulai menggerakkan senjata masing-masing untuk menyerang dan menangkis. Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga bagi Sin Liong, yang kelihatan hanyalah gulungan-gulungan sinar senjata dan bayangan orang berkelebatan tanpa dapat dilihat jelas bayangan siapa. Memang hebat pertandingan ini karena dipandang sepintas lalu, seolah-olah setiap orang melawan enam orang musuh dan kadang-kadang terjadi hal yang lucu. Ketika Tee-tok menyerang Pat-jiu Kai-ong dengan siang-kiamnya, sepasang pedangnya ini membabat dari kiri kanan. Pat-jiu Kai-ong terkejut karena pada saat itu dia sedang menyerang Lam-hai Seng-jin yang di lain pihak juga sedang menyerang Gin-siauw Siucai! Akan tetapi terdengar suara keras ketika sepasang pedang Tee-tok itu bertemu dengan tombak di tangan Thian-he Te-it dan tongkat Thian-tok, sehingga seolah-olah dua orang ini melindungi Pat-jiu Kai-ong. Pertandingan kacau balau dan hanya Kiam-mo Cai-li yang benar-benar amat cerdiknya. Dia tidak melayani seorang tertentu, melainkan berlarian berputar-putar, selalu menghindarkan serangan lawan yang manapun juga dan dia pun itdak menyerang siapa-siapa, hanya menggerakkan pedang payungnya dan rambutnya untuk membuat kacau dan kadang-kadang juga menekan lawan apabila melihat ada seorang diantara mereka yang terdesak.

Siasatnya adalah untuk merobohkan seorang demi seorang dengan jalan "mengeroyok" tanpa membantu siapa-siapa agar jumlah lawannya berkurang. Namun, mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka tidaklah mudah dibokong oleh Kiam-mo Cai-li, bahkan lama-lama akalnya ini ketahuan dan mulailah mereka menujukan senjata kepada wanita ini sehingga mau tidak mau wanita itu terseret ke dalam pertandingan kacau-balau itu! Terpaksa dia mempertahankan diri dengan pedang payungnya, dan membalas serangan lawan yang paling dekat dengan kemarahan meluap-luap. Sin Liong menjadi bengong. Entah kapan datangnya, tahu-tahu dia melihat seorang laki-laki duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon besar yang tumbuh dekat medan pertandingan itu. Laki-laki itu memandang ke arah pertempuran dengan mata terbelalak penuh perhatian, tangan kiri memegang sehelai kain putih lebar, dan tangan kanan yang memegang sebatang alat tulis tiada hentinya mencorat-coret di atas kain putih itu, seolah-olah dia tidak sedang menonton pertandingan, melainkan sedang menonton pemandangan indah dan dilukisnya pemandangan itu! Sin Liong yang terheran-heran itu memperhatikan. Orang laki-laki itu kurang lebih empat puluh tahun usianya, pakaiannya seperti seorang pelajar akan tetapi di bagian dada bajunya yang kuning muda itu ada lukisan seekor Naga Emas dan seekor Burung Hong Merah. Indah sekali lukisan baju itu. Wajahnya tampan dan gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, pakaiannya juga bersih dan terbuat dari sutera halus, sepatu yang dipakai kedua kakinya masih baru atau setidaknya amat terpelihara sehingga mengkilap.

Rambutnya memakai kopyah sasterawan dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia mencorat-coret melukis pertandingan antara tujuh orang sakti itu. Sin Liong makin bingung. Betapa mungkin melukis tujuh orang yang sedang berkelebatan hampir tak tampak itu? Sin Liong tidak lagi memperhatikan pertandingan, hanya memandang ke arah orang itu. Dia mendengar bentakan-bentakan nyaring dan tidak tahu bahwa tujuh orang itu telah ada yang terluka. Thian-he Te-it telah terkena hantaman tongkat Thian-tok di pahanya sehingga terasa nyeri sekali. Pat-jiu Kai-ong juga kena serempet pundaknya sehingga berdarah oleh sebatang di antara Siang-kiam di tangan Tee-tok, sedangkan Lam-hai Seng-jin dan Gin-siauw Siucai juga telah mengadu tenaga dan keduanya tergetar samapi muntahkan darah namun berkat sinkang mereka, kedua orang ini tidak sampai mengalami luka dalam yang parah.

Sin Liong melihat betapa laki-laki di atas pohon itu tersenyum, menghentikan coretannya, menyimpan pensil dan menyambar jubah luar yang tadi tergantung di ranting pohon, memakainya, kemudian mengantongi gambar yang telah digulungnya dan tubuhnya melayang turun. "Tontonan tidak bagus!" Terdengar dia berseru. "Tujuh orang tua bangka gila memperlihatkan tontonan di depan seorang anak kecil benar-benar tak tahu malu sama sekali!"

Tujuh orang itu terkejut ketika mendengar suara yang langsung menggetarkan jantung mereka itu. Mengertilah mereka bahwa yang datang ini memiliki khikang dan singkang yang amat kuat, sehingga dapat mengatur suaranya, langsung dipergunakan untuk menyerang mereka dan sama sekali tidak mempengaruhi Sin-tong yang masih duduk bersila. Dengan hati tegang mereka lalu meloncat mundur dan masing-masing.melintangkan senjata di depan dada, memandang ke arah laki-laki gagah yang baru muncul itu. Namun, tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengenalnya, maka ketujuh orang itu menjadi marah sekali.

JILID 3

Bangsat kecil, engkau siapakah berani mencampuri urusan kami dan memaki kami?" bentak Pat-jiu Kai-ong sambil mengusap pundaknya yang berdarah.

Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami, tikus kecil?" bentak pula Thian-he Te-it yang masih ngilu rasa pahanya, dan untung bahwa pahanya itu tidak patah tulangnya. Laki-laki itu melangkah maju menghampiri mereka dengan langkah tegap dan sikap sama sekali tidak takut, bahkan wajahnya itu berseri-seri memandang mereka seorang demi seorang. kemudian, setelah berada di tengah-tengah sehingga terkurung, dia berkata, " Tadinya aku hanya mendengar bahwa ada seorang anak baik terancam oleh perebutan orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Ketika tiba disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku masuk dan hatiku memang penasaran menyaksikan gerakan kalian yang sungguh-sungguh masih mentah. Ilmu tongkat dia itu tentu Pat-mo-tung-hoat yang berdasarkan Ilmu Pedang Pat-mo-kiam-hoat," katanya sambil menuding ke arah Pat-jiu Kai-ong. Raja pengemis itu terkejut sekali melihat orang mengenal ilmu tongkatnya, padahal tadi mereka bertujuh bertanding dengan kecepatan luar biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal ilmu tongkatnya?

"Dan ilmu otngkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi. Meniru gerakan Kauw Cee Thian Si Raja Monyet, akan tetapi kaku dan mentah, tidak pantas menjadi gerakan Raja Monyet, pantasnya menjadi gerakan Raja Tikus! Dia menuding arah Thian-tok.

"Brakkk!!" Batu besar yang berada di samping Thian-tok hancur berantakan karena dipukul oleh tongkatnya. Dia marah sekali mendengar ucapan yang dianggapnya menghina itu. "Manusia lancang, berani kau menghina Thian-tok?" bentaknya dan tongkatnya sudah diputar hendak menyerang. Akan tetapi orang itu membentak, "Berhenti!" Dan aneh, suaranya demikian berwibawa sehingga Thian-tok sendiri sampai tergetar dan menghentikan gerakan tongkatnya. "Aku melihat kalian masing-masing memiliki kepandaian khusus namun masih mentah semua. Aku tidak membohong dan kalau tidak percaya, marilah kalian maju seorang demi seorang, akan kuperlihatkan kementahan ilmu silat kalian yang kalian pergunakna dalam pertandingna kacau balau tadi. Hayo siapa yang maju lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat kalian sendiri!"

Ucapan ini lebih mendatangkan rasa heran dan tidak percaya daripada kemarahan, maka Pat-jiu Kai-ong melupakan pundaknya yang terluka, cepat dia sudah meloncat ke depan, melintangkan tongkatnya di depan dada sambil berseru, "Nah, coba kaubuktikan kementahan ilmu tongkatku!" Setelah berkata demikian, Raja Pengemis ini menyerang, menggunakan tongkatnya untuk menusuk, kemudian gerakan ini dilanjutkan dengan memutar tongkat ke atas menghantam kepala.

Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan pedang, dia ambil dari Ilmu Pedang Pa-mo-kiam-hoat. Hal ini adalah rahasianya, maka dia heran sekali mendengar orang tampan gagah itu mengenal ilmu tongkatnya dan sekaligus membuka rahasianya.

Enam orang tokoh yang lain adalah orang-orang yang telah terkenal, maka mereka menahan kemarahan dan menonton untuk melihat apakah orang yang tidak terkenal ini benar-benar memiliki kepandaian aneh dan apakah benar-benar selihai mulutnya yang amat sombong itu.

Serangan Pat-jiu Kiam-ong itu tidak ditangkis, akan tetapi tubuh orang itu tiba-tiba saja lenyap! Semua orang kaget dan bengong melihat betapa tubuh orang itu tahu-tahu telah melayang turun dari atas pohon, di tangannya terdapat sebatang cabang pohon, yang daunnya telah dibersihkan. Demikian cepatnya dia tadi meloncat sehingga tidak tampak, dan entah bagaimana cepatnya tahu-tahu dia telah membikin sebatang tongkat yang ukurannya sama dengan tongkat yang dipegang Pat-jiu Kai-ong. Begitu dia turun, Pat-jiu Kai-ong telah menyerangnya dengan kemarahan meluap.

"Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang kau rubah menjadi Pat-mo-tung-hoat?" Dan orang itu pun kini mengimbangi permainan ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dengan gerakan yang sama! Jurus demi jurus dimainkan orang itu untuk menangkis dan balas menyerang, namun.bedanya, serangannya jauh lebih cepat dan lebih kuat tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat itu!Tokoh-tokoh lain hanya menduga-duga, mengira orang baru itu meniru gerakan Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi Raja Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan lain adalah ilmu tongkatnya sendiri yang digubahnya sendiri! Dia menjadi bingung dan heran, apalagi serangan orang itu cepatnya melebihi kilat dan dalam belasan jurus saja, tiba-tiba terdengar suara keras, tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong patah dan si Raja Pengemis ini sendiri terpelanting dan mukanya pucat sekali karena tadi ujung tongkat lawannya telah menyambar dahinya tepat diantara mata dan kalau dikehendakinya, tentu dia telah tewas, akan tetapi orang aneh itu hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian itu robek dan berdarah.

Tahulah dia bahwa sia telah berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuinya, tahu pula bahwa nyawanya diampuni maka tanpa banyak cakap dia lalu mundur dan berdiri dengan muka pucat dan mulut berbisik, "Aku mengaku kalah!" Tentu saja hal ini mengejutkan enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi, dalam pertandingan kacau balau, telah beradu senjata dengan Si Raja Pengemis, dan mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai, juga tongkat itu sendiri merupakan senjata pusaka yang kuat menangkis senjata tajam, di samping tenaga sinkang si Kakek Jembel yang amat kuat. Namun, dalam belasan jurus saja kakek jembel itu mengaku kalah, tongkatnya patah dan diantara alisnya terluka, sedangkan tadinya mereka mengira bahwa orang yang baru datang itu hanya meniru-niru ilmu silat Pat-jiu Kai-ong! "Si Jembel tua bangka memang tolol!" Tiba-tiba Thian-he Te-it Ciang Ham meloncat ke depan, tombaknya melintang di tangannya, sedangkan tangan kirinya dikepal, tangan kiri yang mengandung tenaga mukjijat dan terkenal dengan sebutan Kang-jiu(Lengan Baja) yang kuat menangkis senjata tajam! Orang itu tersenyum sabar. Hemm, jadi tadi adalah Pat-jiu Kai-ong, ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal?

Heran ilmunya masih serendah itu sudah berani malang melintang di Heng-san. Dan kau ini siapakah? Ginkangmu cukup lumayan akan tetapi permainan tombakmu belum patut disebut Sin-jio(Tombak Sakti), dan pukulan itu, tentu yang dinamakan Lengan Baja, sayangnya tidak cocok dengan sebutannya karena terlalu lemah, hemm, terlalu lemah...!"

Muka Ciang Ham menjadi merah sekali saking marahnya. Sudah menjadi kebiasaannya kalau dia lagi marah, matanya mendelik dan kumisnya yang jarang itu bergoyang-goyang menurutkan bibir atasnya yang tergetar! "Si keparat sombong! Tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Thian-he Te-it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari Kang-jiu-pang di Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!"

Kembali orang itu meloncat ke atas, kini semua orang yang sudah memperhatikan seluruh gerak-geriknya melihat bahwa orang itu benar-benar memiliki ginkang yang sukar dipercaya. Hanya dengan mengenjot ujung kaki, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam pohon besar dan tak lama kemudian sudah melayang turun membawa sebatang cabang yang panjangnya sama dengan tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya juga sudah diruncingkan, entah bagaimana caranya! "Nah, coba mainkan ilmu tombakmu dan pukulan Lengan Bajumu yang masih mentah itu." Thian-he Te-it Ciang Ham bukan main marahnya. Sambil mengeluarkan gerengan keras dia menerjang, tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak berubah menjadai belasan banyaknya, semua mata tombak itu seolah-olah menyerang bagian-bagian tertentu dari lawannya! Namun orang itu pun menggerakkan tombak cabang pohon dengan gerakan yang sama, bahakan mata "tombaknya" berubah menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan tombak yang menyilaukan mata dan terjadilah pertandingan tombak yang amat aneh karena gerakan mereka sama. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian-he Te-it Ciang Ham. Ilmu tombak itu adalah ciptaannya sendiri dan selama ini belum pernah diajarkan kepada siapapun juga, merupakan kepandaian khasnya yang ampuh. Akan tetapi sekarang dia melihat orang ini mainkan ilmu tombaknya dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih kuat!

Marahlah dia. "Setan kau!" dia memaki dan kini tombaknya membuat lingkaran besar, menyambar-nyambar diatas kepala sedangkan lengan kirinya melakukan pukulan maut karena lengan itu seolah-olah merupakan sebuah senjata baja yang kuat sekali.."Bagus," orang itu berseru, tombaknya bergerak pula menyambut tombak lawan dan terdengar suara "krekkk" ketika ujung tombak Thian-he Te-it patah disusul bertemunya dua buah lengan. "Desss...!" Thian-he Te-it Ciang Ham mengaduh, melemparkan tombaknya yang patah, menggunakan tangan kanan mengurut-urut lengan kirinya. Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan Lengan Baja itu, yang berani menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan, berubah menjadi seperti bambu bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya bukan main! Dia pun bukan anak kecil, seketika tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang tingkat kepadaiannya jauh lebih tinggi, membuat dia seolah-olah berhadapan dengan gurunya, maka dia meloncat ke belakang, meringis dan berkata nyaring, "Aku kalah!"

Hening sejenak. Lima orang tokoh lain terheran-heran, hampir tidak dapat percaya akan peristiwa yang telah terjadi. Biarpun mereka mulai merasa heran dan gentar, namun rasa penasaran membuat mereka lupa akan kenyataan bahwa orang itu benar-benar lihai. Mereka hendak membuktikan sendiri apakah benar orang aneh ini dapat memainkan ilmu istimewa mereka yang selama ini mengangkat nama mereka di tempat tinggi di dunia kang-ouw.

"Hayo, siapa lagi yang ingin memamerkan ilmunya yang masih mentah?" Orang itu sengaja menantang sambil melemparkan tombak cabang pohon yang telah berhasil mematahkan ujung tombak pusaka di tangan Ciang Ham tadi.

"Aku ingin mencoba!" Thian-tok sudah melompat ke depan dengan gerakan seperti seekor kera dan tangan kirinya menggaruk-garuk pantat, tangan kanan memegang tongkat Kim-kauw-pang itu memutar-mutar tongkatnya.

"Nanti dulu," kata orang itu. "Yang bertombak tadi, bukankah dia yang terkenal sekali sebagai ketua Kang-jiu-pang di Secuan? harap Pangcu (Ketua) menjaga agar anak buahmu tidak merendahkan nama Kang-jiu-pang dengan melakukan perbuatan melanggar hukum dan memperbaiki ilmu silatnya." Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya bergoyang-goyang karena marahnya.

"Dan Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah memang hendak meniru lagak seekor monyet? Kalau begitu, tentulah Anda yang berjuluk Thian-tok, yang kabarnya menjadi pemuja Kauw Cee Thian, terkenal dengan Ilmu Tongkat Kim-kauw-pang dan Ilmu Silat Sin-kauw-kun." "Dugaanmu benar, akulah Thian-tok! Siapakah namamu, manusia sombong?" Thian-tok Bhong Sek Bin membentak marah. "ataukah kau tidak berani mengakui namamu dan bersikap sebagai seorang pengecut tukang mencuri ilmu orang lain?"


0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.
.comment-content a {display: none;}